Mbok Darmi

Namanya Menik Saraswati. Ibu dua anak ini setiap dua hari sekali menunggu mobil antar jemput Bandara Sukarno – Hatta.Ya, memang ia adalah seorang pramugari maskapai penerbangan Garuda. Pagi itu ia berdiri didepan kaca jendela, dilihatnya  hujan rintik mulai membasai perataran rumah. Ia teringat dan membayangkan saat – saat bersama menjalani kehidupan dengan Mbok Darmi, orang tua yang selama ini mendidik dan membesarkannya hingga menjadi orang.

      Seperti biasanya, Mbok Darmi selalu bangun dipagi hari keadaan masih gelap gulita, kebiasaan ini sudah dilakukannya semenjak Mbok Darmi masih muda belia, dari kejauhanpun terdengar sayup – sayup orang lagi ngaji disambut juga oleh suara ayam berkokok pertanda hari menjelang pagi. Dirapikannya tempat tidur lalu ia bergegas berjalan  kearah belakang rumah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.  Meski tubuhnya sudah tua dan rambutnya mulai memutih tapi ia masih tetap gesit,  guratan garis wajahnya belum menampakkan  terlalu tua keliatannya ia dulu gadis yang cantik. Mbok Darmi lalu menuju kamar Menik anak perempuan semata wayangnya itu, gadis inilah bagi Mbok Darmi adalah harta satu – satunya didunai ini yang ia miliki.

” Kreeeek ” daun pintu itu terbuka lalu Mbok Darmi masuk kedalam kamar Menik dipeganngnya badan anak itu.

” Nak, nak bangun ayo sholat Subuh “.

Menik pun menggliatkan badan. Dibuka kedua matanya setengah, dahinya dikerutkan sambil mulutnya mendesis.

” Males banget nih Mbok bangun “.

Mungkin Menik terlalu capek dan tidur terlalu larut malam karena harus belajar untuk persiapan ujian akhir, ujian ini baginya adalah penentuan antara lulus dan tidaknya selama bersekolah di SMU Negeri 4 Boyolali.

” Eeeeh….. anak gadis jangan males bangun pagi, sudah kesana ambil air wudhu “.

Akhirnya dengan terpaksa Menik bangun dari tempat tidurnya sambil mengusap – ngusap kedua belah matanya yang indah itu antara setengah sadar ia berjalan gontai menuju kearah kamar mandi yang letaknya tidak seberapa seberapa jauh dari rumahnya. Memang kamar mandi itu dibanngun atas swadaya warga untuk kepentingan bersama, maklumlah dikampung Mbok Darmi kebanyakan perekonomian warganya kurang mampu.

          Suara Adzan berkumandang dimana – mana, Mbok Darmi sudah mulai tadi menunggu Menik diteras depan rumah.

” Nak sudah apa belum? sudah mulai Azdan nih “.

” Iya Mbok “.

Menik menyambar mukena yang sudah  diletakkan diruang tamu lalu ia berjalan menghampiri Mbok Darmi, mereka berangkat kemasjid sesampainya mereka langsung sholat Subuh, hampir saja mereka ketinggalan sholat. Subuh itu yang jadi imam ustazd Jupry kalau ia sudah jadi imam atau azdan suaranya amat mendayu – dayu dan meliuk – liuk bagaikan seorang penari India, banyak orang yang mengaguminya karena suaranya begitu merdu dan khas bahkan Mbok Darmi dan Menik geleng – geleng kalau lagi mendengarkannya. Salam terakhir terdengar pertanda sholat sudah selesai setelah ustazd Jupry membacakan doa lalu merekapun bersalaman keluar satu persatu dari dalam masjid sedangkan Mbok Darmi dan Menik berjalan kaki menuju kearah rumah mereka.

” Tinggal berapa hari lagi nak, kamu ujian “.

” 3 hari lagi sudah selesai kok Mbok “.

” Ya kalau begitu belajar terus nak supaya cita – cita kamu tercapai kalau semua tercapai kan kamu sendiri yang senang bahkan Mbok akan bangga malihat melihat kamu jadi orang “.

” Iya Mbok “.

Bagi Menik, Mbok Darmi adalah seorang ibu yang penuh dengan kasih sayang dia juga teman saat dibutuhkan bahkan seorang bapak saat merasakan kesepian dan merasa ketakutan. Karena Menik sudah tidak mempunyai bapak lagi.

Leave a comment »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Comments (1) »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.